Jumat, 05 April 2013

Resensi Film “ HABIBI DAN AINUN”


Cita dan Cinta kepada pasangan serta Tanah air

Pemeran :  Reza ramadhan
                  Bunga Citra Lestari
Produksi  : MD Picture
Sutradara : Hanung Bramantyo
Durasi       : 118 menit
Tanggal     : 20 -12 -2012

“Kamu jelek, hitam. Kayak gula Jawa,” Ucap habibi remaja kepada seorang temannya perempuannya.  Demikian pembukaan film romantic yang pernah hadir di belantika perfilman Indonesia.  Film yang mengangkat kisah perjuangan hidup seorang jenius yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, sekaliber Enstain. Pemuda yang bercita-cita menyetarakan bangsanya dengan negara lain dalam bidang transportasi, khusunya pesawat terang. Bahkan karya pemuda ini diakui oleh professor pembimbingnya. Walau demikian, pemuda tersebut tidak pernah lupa dengan tanah airnya, tanah tumpah darahnya.  Meskipun diakhir perjuangan mememukan tantangan untuk mewujudkan keinginan menyatukan kepulauan Indonesia menggunakan transportasi udara. Dia adalah Baharuddin Jusuf Habibi.
“Saya belum tentu menjadi istri yang baik, namun saya berusaha mendampingimu hingga akhir hayatku,..” Ujar Ainun ketika habibi mengutarakan keinginanannya meminang perempuan gula jawa tersebut.
 “Bersediakah kamu menemaniku ke Jerman? Tapi saya janji kita akan pulang dan membuat pesawat untuk bangsa kita” janji habibi mantap.
Mungkin kalimat ini terdengar klise, enteng dan gombal.  Tetapi inilah semangat dan  cita-cita habibi kepada pasangannya.  Juga cintanya kepada bangsannya.
Film ini tidak hanya sekedar tontonan layaknya karya anak bangsa lainnya, melainkan terdapat pelajaran, terhadap remaja, pemuda  Indonesia untuk cinta tanah air dan berusaha berbuat sesuatu untuk Negara.  Seperti pernyataan presiden JF Kenendy, janganlah berharap apa yang akan diberikan bangsa kepada dirimu, tetapi apa sumbangsih dirimu kepada bangsamu.”
Selain itu film ini sarat makna romantic, utamanya para pasangan suami istri untuk senantiasa memupuk cinta dan kasih sayang dalam ikatan sakral pernikahan yang telah diikrarkan bersama. Sesuatu yang kecil senantiasa diredam agar tidak menjadi boomerang kepada kehidupan. 
Ini juga yang diperlihatkan oleh Ainun, tatkala Habibi tengah di puncak karier, sehingga godaan, isu suap, bingkisan gratifikasi dari sejumlah pihak yang ingin bermain ‘kotor’ dengan beliau, maka sosok Ainun menguatkan. Perhatian dan cinta kasih Ainun tak tergantikan. Meskipun Ainun pada akhirnya harus berjuang melawan kanker ovarium.
Film Habibi dan Ainun yang diangkat dari buku yang berjudul sama.  Buku yang dirilis ini berjudul “Habibie dan Ainun” yang berisi perjalanan hidup dan kisah cinta Pak Habibie sama Ibu Ainun, sang istri. Buku ini sebenarnya merupakan curhatan Pak Habibie sepeninggal Ibu Ainun. Pak Habibie yang merasa sangat dekat dengan Bu Ainun merasa benar-benar jatuh ketika Bu Ainun Meninggal. Beliau merasa separuh jiwanya hilang, tak lagi lengkap. Beliau sempet merasa hampir gila. Maka buku ini menjadi terapi yang bisa membuat Pak Habibie bangkit, menjadi normal.
Tayangan perdana film ini serentak di Indonesia pada tanggal 20 desember 2012. Moment ini terasa tepat dikarenakan pemberitaan dari negeri Malaysia yang tengah menyoroti sosok habibi.  Menyebar efek negative terhadap sosok mantan presiden Indonesia. Meskipun Habibi tidak terpancing dengan pemberitaan tersebut. Sehingga film ini seakan ingin memberikan pencerahaan terhadap pemberitaan tersebut.
Namun terlepas dari semua itu, film ini layak ditonton oleh masyarakat Indonesia. Dikarenakan keberhasilan Reza Ramadhan memerankan karakter habibi secara totalitas, melalui cara Pak Habibi berbicara, cara berjalan, tatapan mata beliau.  Demikian juga BCL yang memerankan Ainun, yang kalem, perhatian dan tenang dalam bersikap menampilkan sosok ke-jawa-an. 
Untuk itu film ini menjadi film romantic di penutup tahun 2012. Maka demi mengapresiasi karya anak bangsa, yang menampilkan sosok cerdas, berdedikasi.  Tentunya film ini syarat akan cita, cinta kepada pasangan dan tanah air.  (fajar)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar